Blogger Tricks

Image by FlamingText.com
Image by

Kamis, 20 Oktober 2011

PENGARUH MOTIVASI DAN DISIPLIN TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA DIKLAT PROGRAM PRODUKTIF SISWA


Peraturan di sekolah zaman sekarang sangat berpengaruh sekali perannya dalam kehidupan siswa-siswi di sekolah, membentuk watak seperti apakah siswa-siswi nantinya. Semakin banyaknya peraturan sekolah yang ada maka semakin ketat pula larangan-larangan yang harus dihindari oleh banyak siswa-siswi di sekolah. Dalam pembentukan karakter peraturan di sekolah pun haruslah yang penting-penting saja, dalam hal ini dimaksudkan bahwa peraturan yang benar-benar bias menunjang pertumbuhan (perkembangan) watak seorang siswa siswi di sekolah. Peraturan-peraturan di sekolah harus bisa mencangkup Disiplin, Ketertiban, Pelanggaran, dan Hukuman. Hukuman juga berperan penting pula dalam pembentukan watak siswa-siswi, hal ini disebabkan semakin berat hukuman yang diberikan maka dapat memberikan efek jera pada siswa-siswi sehingga membuat siswa-siswi tersebut menjadi tidak ingin melakukan kesalahan dalam melanggar aturan tersebut.

DISIPLIN
Disiplin sangat diperlukan oleh siapapun dan dimanapun. Manusia memerlukan disiplin dalam hidupnya terutama untuk kelancaran dalam pencapaian tujuan yang dihendaki, sehingga manusia mustahil hidup tanpa disiplin. Jadi disiplin berperan penting dalam membentuk individu yang berciri keunggulan. Apabila dikaitkan dengan dunia pendidikan, disiplin sangat diperlukan terutama dalam kelancaran proses belajar mengajar. Tulus Tu’u mengemukakan beberapa alasan tentang pentingnya disiplin dalam belajar, yaitu:
1.       Dengan disiplin yang muncul karena kesadaran diri, siswa diharapkan dapat berhasil dalam belajarnya. Sebaliknya siswa yang kerapkali melanggar ketentuan sekolah pada umumnya terhambat optimalisasi potensi dan prestasinya.
2.       Tanpa disiplin yang baik, suasana sekolah dan kelas, menjadi kurang kondusif bagi kegiatan pembelajaran. Secara positif, disiplin memberi dukungan lingkungan yang tenang dan tertib bagi proses pembelajaran.
3.       Orang tua senantiasa berharap di sekolah agar anak-anak dibiasakan dengan norma-norma, nilai kehidupan dan disiplin, sehingga diharapkan anak-anak dapat menjadi individu yang tertib, teratur dan disiplin.
4.       Disiplin merupakan jalan bagi siswa untuk sukses dalam belajar dan pada saat masuk dalam dunia kerja. Kesadaran pentingnya norma, aturan, kepatuhan dan ketaatan merupakan prasyarat kesuksesan seseorang Tumbuhnya sikap disiplin bukan merupakan peristiwa mendadak yang tiba-tiba saja terjadi.

Disiplin pada diri seseorang tidak dapat tumbuh tanpa adanya campur tangan dari pendidik dan itupun perlu dilakukan secara bertahap sedikit demi sedikit. Penanaman disiplin yang dimulai dari kecil pada lingkungan keluarga seperti bangun pagi, merapikan tempat tidur dan mandi mempunyai dampak yang sangat besar pada saat anak mulai keluar dengan tingkat disiplin yang lebih keras dan kaku. Disiplin terjadi dan terbentuk sebagai hasil dari dampak proses pembinaan cukup panjang yang dilakukan sejak dari keluarga dan berlanjut dalam pendidikan di sekolah sebagai tempat penting bagi pengembangan disiplin seseorang.
Penerapan disiplin di sekolah sangat terlihat jelas dan tegas, hal ini terlihat pada tata tertib yang diberlakukan dan disertai dengan sanksi-sanksi pada setiap pelanggaran tata tertib. Peraturan yang ada di sekolah berlaku untuk guru dan siswa kemudian dipatuhi secara konsisten dan konsekuen. Tata tertib yang dibuat antara guru dan siswa atas kesepakatan bersama akan membuat siswa merasa bahwa tata tertib tersebut bukan suatu paksaan dari pihak lain tetapi suatu janji dari diri sendiri, sehingga siswa lebih mudah untuk menerima dan mematuhi tata tertib tersebut. Jadi tata tertib yang dirancang dan dipatuhi dengan baik akan memberi pengaruh bagi terciptanya sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang kondusif bagi kegiatan belajar mengajar.
Ada 4 faktor dominan yang mempengaruhi dan membentuk disiplin, yaitu:
1.       Kesadaran diri.
Merupakan pemahaman diri bahwa disiplin dianggap penting sebagai kebaikan dan keberhasilan diri, selain itu kesadaran diri menjadi motif yang sangat berpengaruh bagi terwujudnya disiplin.
2.       Pengikutan dan ketaatan.
Sebagai langkah penerapan dan praktik atas peraturan yang mengatur perilaku individu. Hal ini sebagai kelanjutan dari adanya kesadaran diri yang dihasilkan oleh kemampuan dan kemauan diri yang kuat. Tekanan dari luar dirinya sebagai upaya mendorong, menekan dan memaksa agar disiplin diterapkan dalam diri seseorang sehingga peraturan-peraturan dapat diikuti dan dipraktikkan.
3.       Alat pendidikan.
Sebagai sarana untuk mempengaruhi, mengubah, membina dan membentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang ditentukan.
4.       Hukuman.
Sebagai upaya untuk menyadarkan, mengoreksi dan meluruskan yang salah sehingga orang kembali pada perilaku yang sesuai dengan harapan (Tulus Tu`u, 2004: 48).

Dari keempat faktor disiplin diatas yang memegang peranan yang sangat penting adalah kesadaran diri, dimana disiplin tersebut harus benar-benar berasal dari pemahaman diri akan pentingnya disiplin yang akan berdampak positif bagi kelancaran dalam menuju keberhasilan cita-citanya. Kesadaran diri ini terwujud dalam kegigihan dan kerja keras untuk menunjang peningkatan dan pengembangan prestasi yang positif. Disiplin dalam belajar bagi siswa merupakan keharusan bagi siswa yang ingin memperoleh prestasi belajar yang memuaskan. Disiplin belajar kaitannya dengan ketertiban dalam melakukan aktivitas siswa, dimana siswa diharapkan dapat mengerahkan energinya untuk belajar secara kontinu, melakukan belajar dengan kesungguhan dan tidak membiarkan waktu luang serta patuh terhadap peraturan yang ada di lingkungan belajar.
Selain empat faktor disiplin yang dominan, masih ada beberapa faktor lain yang berpengaruh pada pembentukan disiplin individu, yaitu:
1.       Teladan.
Perbuatan dan tindakan kerapkali lebih besar pengaruhnya dibandingkan dengan kata-kata. Dalam hal ini siswa lebih mudah meniru apa yang mereka lihat (dianggap baik dan patut ditiru) daripada dengan apa yang mereka dengar. Lagi pula, hidup manusia banyak dipengaruhi peniruan-peniruan terhadap apa yang dianggap baik dan patut ditiru.
2.       Lingkungan berdisiplin.
Lingkungan sangat besar pengaruhnya. Apabila berada di lingkungan yang berdisiplin, seseorang dapat terbawa oleh lingkungan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa manusia mampu beradaptasi dengan lingkungannya sehingga dapat mempertahankan hidupnya.
3.       Latihan berdisiplin.
Disiplin dapat dicapai dan dibentuk melalui proses latihan dan kebiasaan, artinya dengan melakukan disiplin secara berulang-ulang dan membiasakannya dalam praktik disiplin sehari-hari yang menjadi suatu kebiasaan yang tidak dapat ditinggalkan. Dengan latihan dan membiasakan diri, disiplin tidak akan menjadi suatu beban yang dirasa sangat memberatkan bagi siswa terutama dalam melaksanakan segala kegiatan yang berhubungan dengan belajar (Tulus Tu`u, 2004: 49).

Disiplin individu diatas merupakan disiplin yang berasal dari dalam diri siswa dimana semua siswa diberi kesempatan untuk melakukan apa saja yang dikehendaki dengan melihat keadaan disekelilingnya dan pada akhirnya siswa dapat menentukan suatu perilaku yang berarti bagi dirinya dalam hal pencapaian prestasi yang lebih baik. Disiplin belajar merupakan ketaatan peserta didik terhadap peraturan-peraturan yang ditetapkan di lingkungan belajar antaralain:
1.       Disiplin dalam mematuhi peraturan sekolah.
Patokan-patokan standar yang harus dipenuhi oleh siswa meliputi hal-hal yang ada di lingkungan sekolah pada umumnya dan yang ada di kelas, khususnya dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar baik peraturan sekolah maupun peraturan di dalam kelas.
2.       Disiplin dalam mengikuti pelajaran.
Didalam pengelolaan pengajaran, disiplin merupakan suatu masalah penting. Tanpa adanya kesadaran akan keharusan melaksanakan aturan yang sudah ditentukan sebelumnya, pengajaran tidak mungkin dapat mencapai target maksimal.
3.       Disiplin dalam diri siswa.
Semua siswa diberi kesempatan untuk melakukan apa yang dikehendaki dalam lingkungannya dengan memperhatikan peraturan dan manfaat dari kegiatan yang dilakukan sehingga siswa dapat menentukan suatu perilaku yang berarti bagi dirinya (Suharsimi Arikunto,1990:129-140).

Disiplin sangat penting dan dibutuhkan oleh setiap siswa. Disiplin menjadi prasyarat bagi pembentukan sikap, perilaku dan tata kehidupan berdisiplin yang akan mengantar siswa untuk sukses dalam belajar dan juga dalam dunia kerja nantinya. Dari pernyataan diatas ada beberapa fungsi disiplin, yaitu:
1.       Menata kehidupan bersama.
Manusia adalah makluk unik yang memiliki ciri, sifat, kepribadian, latar belakang dan pola pikir yang berbeda-beda. Selain sebagai makluk individu juga sebagai makluk sosial yang selalu berhubungan dengan orang lain. Dalam hubungan tersebut diperlukan adanya norma, nilai dan peraturan untuk mengatur agar kehidupan dan kegiatannya dapat berjalan baik dan lancar.
2.       Membangun kepribadian.
Pertumbuhan kepribadian seseorang biasanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan keluarga, lingkungan pergaulan, lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah. Oleh karena itu, dengan disiplin, seseorang dibiasakan mengikuti, mematuhi dan menaati peraturan-peraturan yang berlaku. Lingkungan yang berdisiplin baik, sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang. Apalagi seorang siswa yang sedang tumbuh kepribadiannya, tentu lingkungan sekolah yang tenang dan tenteram sangat berperan dalam membangun kepribadian yang baik.
3.       Melatih kepribadian.
Sikap, perilaku dan pola kehidupan yang baik dan berdisiplin tidak terbentuk serta merta dalam waktu yang singkat, namun terbentuk dari suatu proses yang membutuhkan waktu yang panjang dan terus dilakukan latihan, pembiasaan diri, mencoba, berusaha dengan gigih bahkan disertai dengan tempaan yang keras.
4.       Pemaksaan.
Disiplin dapat berfungsi sebagai pemaksaan kepada seseorang untuk mengikuti peraturan-peraturan yang berlaku di lingkungannya. Dari mula-mula karena paksaan, kini dilakukan karena kesadaran diri, menyentuh kalbunya dan merasakan disiplin sebagai kebutuhan dan kebiasaan. Disiplin bukan hanya soal mengikuti dan menaati peraturan, melainkan sudah meningkat menjadi disiplin berpikir yang mengatur dan mempengaruhi seluruh aspek kehidupannya.
5.       Hukuman.
Tata tertib sekolah biasanya berisi hal-hal positif yang harus dilakukan oleh siswa. Sisi lainnya berisi sanksi atau hukuman bagi yang melanggar tata tertib tersebut. Ancaman sanksi atau hukuman sangat penting karena dapat memberi dorongan dan kekuatan bagi siswa untuk menaati dan mematuhinya. Tanpa ancaman hukuman atau sanksi, dorongan ketaatan dan kepatuhan dapat melemah.
6.       Mencipta lingkungan kondusif.
Peraturan sekolah yang dirancang dan diimplementasikan dengan baik, memberi pengaruh bagi terciptanya sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang kondusif untuk kegiatan belajar. Tanpa ketertiban, suasana kondusif bagi pembelajaran akan terganggu sehingga akan menghambat proses pencapaian prestasi belajar (Tulus Tu’u,2004:38)

Dalam mencapai suatu prestasi, siswa harus memiliki rasa disiplin yang tinggi khususnya disiplin individu yang dimulai dalam lingkungan kecil yaitu keluarga dan dibawa ke lingkungan yang lebih besar yaitu sekolah. Disiplin individu ini harus dilatih terus menerus yang pada akhirnya menjadi kebiasaan bukan suatu paksaan sehingga dapat memperlancar dalam mencapai suatu prestasi dan menuju kearah sikap yang lebih baik.
Refrensi: SKRIPSI OLEH RIRIS A.O MARPAUNG



Ada berbagai cara yang umum digunakan oleh orang tua untuk mendisiplinkan anak-anak dan remaja, antara lain :
1.       Disiplin Otoriter
Disiplin Otoriter adalah bentuk disiplin yang tradisional yang berdasar pada ungkapan kuno “menghemat cambukan berarti memanjakan anak”. Pada model disiplin ini, orang tua atau pengasuh memberikan anak peraturan-peraturan dan anak harus mematuhinya. Tidak ada penjelasan pada anak mengapa ia harus mematuhi, dan anak tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya tentang aturan itu. Anak harus mentaati peraturan itu, jika tidak mau dihukum. Biasanya hukuman yang diberikan pun agak kejam dan keras, karena dianggap merupakan cara terbaik agar anak tidak melakukan pelanggaran lagi di kemudian hari. Seringkali anak dianggap sudah benar-benar mengerti aturannya, dan ia dianggap sengaja melanggarnya, sehingga anak tidak perlu diberi kesempatan mengemukakan pendapatnya lagi. Jika anak melakukan sesuatu yang baik, hal ini juga dianggap tidak perlu diberi hadiah lagi, karena sudah merupakan kewajibannya. Pemberian hadiah malahan dipandang dapat mendorong anak untuk selalu mengharapkan adanya sogokan agar melakukan sesuatu yang diwajibkan masyarakat.
2.       Disiplin yang lemah
Disiplin model ini biasanya timbul dan berkembang sebagai kelanjutan dari disiplin otoriter yang dialami orang dewasa saat ia anak-anak. Akibat dahulu ia tidak suka diperlakukan dengan model disiplin yang otoriter, maka ketika ia memiliki anak, di didiknya dengan cara yang sangat berlawanan. Menurut teknik disiplin ini, anak akan belajar bagaimana berperilaku dari setiap akibat perbuatannya itu sendiri. Dengan demikian anak tidak perlu diajarkan aturan-aturan, ia tidak perlu dihukum bila salah, namun juga tidak diberi hadiah bila berperilaku sosial yang baik. Saat ini bentuk disiplin ini mulai ditinggalkan karena tidak mengandung 3 unsur penting disiplin.
3.       Disiplin Demokratis
Disiplin jenis ini, menekankan hak anak untuk mengetahui mengapa aturan-aturan dibuat dan memperoleh kesempatan mengemukakan pendapatnya sendiri bila ia menganggap bahwa peraturan itu tidak adil. Walaupun anak masih sangat muda, tetapi daripadanya tidak diharapkan kepatuhan yang buta. Diupayakan agar anak memang mengerti alasan adanya aturan-aturan itu, dan mengapa ia diharapkan mematuhinya. Hukuman atas pelanggaran yang dilakukan, disesuaikan dengan tingkat kesalahan, dan tidak lagi dengan cara hukuman fisik. Sedangkan perilaku sosial yang baik dan sesuai dengan harapan, dihargai terutama dengan pemberian pengakuan sosial dan pujian.

Hukuman adalah vonis dari pengadilan terhadap seseorang yang terbukti bersalah (Purwadarminta, kamus umum bahasa Indonesia:1991). Pembentukan disiplin diri merupakan suatu proses yang harus dimulai sejak masa kanak-kanak. Oleh karena itu pendidikan disiplin pertama-tama sudah dimulai dari keluarga (orang tua). Dalam kehidupan masyarakat secara umum, metode yang paling sering digunakan untuk mendisiplinkan warganya adalah dengan pemberian hukuman.
Hal yang sama dilakukan juga oleh sebagian besar orang tua ataupun guru dalam mendidik anak-anak atau muridnya. Kerugiannya adalah disiplin yang tercipta merupakan disiplin jangka pendek, artinya anak hanya menurutinya sebagai tuntutan sesaat, sehingga seringkali tidak tercipta disiplin diri pada mereka. Hal tersebut disebabkan karena dengan hukuman anak lebih banyak mengingat hal-hal negatif yang tidak boleh dilakukan, daripada hal-hal positif yang seharusnya dilakukan.
Dampak lain dari penggunaan hukuman adalah perasaan tidak nyaman pada anak karena harus menanggung hukuman yang diberikan orang tuanya jika ia melanggar batasan yang ditetapkan. Tidak mengherankan jika banyak anak memiliki persepsi bahwa disiplin itu adalah identik dengan penderitaan. Persepsi tersebut bukan hanya terjadi pada anak-anak tetapi juga seringkali dialami oleh orang tua mereka. Akibatnya tidak sedikit orang tua membiarkan anak-anak “bahagia” tanpa disiplin. Tentu saja hal ini merupakan suatu kekeliruan besar, karena di masa-masa perkembangan berikutnya maka individu tersebut akan mengalami berbagai masalah dan kebingungan karena tidak mengenal aturan bagi dirinya sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tags

Blog Archive

Followers